LEMBAR FAKTA TANAMAN OBAT & OBAT TRADISIONAL
1. Obat merupakan komponen pendukung utama dalam pelayanan kesehatan, sehingga upaya pembangunan kesehatan senantiasa memperhatikan pembangunan di bidang kefarmasian. Hampir seluruh model pengobatan penyakit dalam dunia kedokteran menggunakan obat, sehingga kehadiran obat dapat selalu dipastikan pada setiap keberadaan pelayanan kesehatan.
2. Melalui Kebijakan Obat Nasional, Pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk menjamin ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat, terutama obat esensial.
3. Penggunaan obat tradisional telah berkembang dan menjadi semakin dekat dengan masyarakat. Obat tradisional juga tengah dikembangkan sebagai bahan baku produksi obat. Antara lain; artemisin yang digunakan sebagai bahan baku obat malaria.
4. Obat tradisional tidak hanya dimanfaatkan bagi orang sakit, tapi juga digunakan oleh orang sehat, sebagai upaya pemeliharaan agar tetap sehat. Pangsa pasar yang besar pada saat ini justru orang sehat yang sadar akan pemeliharaan kesehatannya. Jadi, peranan Obat Tradisional di Indonesia dalam menjaga kesehatan masyarakat tak terbantahkan.
5. Pemerintah senantiasa membuka kesempatan inovasi bidang obat tradisional dalam rangka pembangunan kesehatan, termasuk perekonomian nasional.
6. Dunia kefarmasian nasional juga tidak luput dari fenomena ketergantungan terhadap bahan baku impor yang mencapai 95%. Nilai impor beberapa bahan aktif farmasi menunjukkan peningkatan yang pesat selama periode 2001 – 2007.
7. Pada tahun 2007, total nilai impor bahan farmasi penting mencapai USD 211,7 juta, 59% diantaranya adalah bahan baku antibiotik.
8. RRC dan India merupakan sumber impor bahan baku utama bagi industri farmasi di Indonesia. Indonesia mencatat nilai impor sebesar USD 76,5 juta dari RRC untuk bahan baku antibiotik, bahan vitamin dan hormon, parasetamol, antalgin, dan antipirin. Impor bahan baku serupa dari India tercatat sebesar USD 25 juta. Kondisi ini senantiasa mendorong pemerintah untuk berusaha menggapai kemandirian di bidang industri kefarmasian nasional.
9. Indonesia termasuk mega-centre keaneka-ragaman hayati, namun belum banyak dimanfaatkan. Ekspor masih dalam bentuk raw material (bahan mentah dan simplisia kering) yang mempunyai nilai ekonomi rendah jika dibanding dengan ekspor dalam bentuk ekstrak. Jika kemampuan riset dan teknologi ditingkatkan dan diintegrasikan, tidak mustahil Indonesia akan mandiri dalam penyediaan obat dan tidak tergantung dengan impor bahan baku.
10. Diperkirakan 40.000 spesies tumbuhan hidup di muka bumi ini, 30.000 di antaranya tumbuh di Indonesia. Dari jumlah itu, baru sekitar 180 spesies dimanfaatkan sebagai bahan oleh industri obat tradisional.
11. Lima tanaman obat tradisional unggulan untuk pasar nasional dan internasional, yaitu 1) temulawak, 2) kumis kucing, 3) cabe jawa, 4) artemisia dan 5) sambiloto. Saat ini telah diketahui sekurang-kurangnya 950 jenis tanaman obat yang sudah diteliti kegunaannya.
12. Kesungguhan Pemerintah dalam mendorong kemajuan dunia obat tradisional Indonesia ditunjukkan melalui penetapan SK Menkes No. 381/Menkes/SK/III/2007 tentang Kebijakan Obat Tradisional Nasional (KOTRANAS). Kebijakan ini mengatur pemanfaatan obat tradisional mulai dari hulu sampai hilir. Bukan hanya penggunaan, tapi juga aspek bisnisnya.
Tujuannya adalah:
1) Mendorong pemanfaatan sumber daya alam dan ramuan tradisional secara berkelanjutan untuk obat tradisional dalam peningkatan pelayanan kesehatan.
2) Menjamin pengelolaan potensi alam Indonesia secara lintas sektor agar mempunyai daya saing tinggi sebagai sumber daya ekonomi masyarakat dan devisa negara berkelanjutan.
3) Tersedianya obat tradisional yang terjamin mutu, khasiat, keamanan, teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara luas untuk pengobatan sendiri maupun pelayanan kesehatan formal.
4) Menjadikan obat tradisional sebagai komoditi unggul yang memberi multi manfaat, yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, memberi peluang kesempatan kerja, dan mengurangi kemiskinan.
13. Saat ini tercatat 444 industri obat tradisional yang menjalankan usahanya di Indonesia. Jumlah yang besar ini diharapkan dapat menjadi mitra pemerintah dalam mencapai tujuan Kebijakan Obat Tradisional Nasional tersebut.
14. Industri herbal medicine dan health food mulai dari industri besar, menengah, kecil dan rumah tangga terus meningkat pesat. Tercatat pasar ekspor senilai US$ 30-40 juta, dan perkiraan total pasar domestik senilai lebih dari Rp 2 triliyun/ tahun. Tentu ini menjadi penghasil devisa negara dari sektor riil non migas. Dengan intensifikasi nasional, maka Indonesia akan menjadi sumber bahan baku obat, baik obat modern maupun obat tradisional yang berhasiat, aman dan berkualitas.
15. Community empowerment termasuk farmer empowerment praktis akan meningkatkan pemanfaatan tenaga kerja dan menipiskan angka pengangguran. Pembinaan dalam budidaya dan pasca panen tanaman obat yang merupakan simpul utama dari supply chain industri akan meningkatkan produk dan pasokan unggulan bahan baku obat.
16. Depkes mempunyai unit khusus yang meneliti dan mengembangkan tanaman obat dan obat tradisional, yaitu B2P2 TO-OT (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional). Balai ini mempunyai lahan seluas kurang lebih 15 hektar di lokasi yang sangat indah di lereng gunung Lawu, Tawangmangu, Kabuaten Karanganyar. Di Balai ini telah diteliti sekitar 950 spesies tanaman berkhasiat obat, 12 diantaranya sudah diuji klinis oleh BPOM. (1.Echinaceae, 2.Kumis Kucing, 3.Sledri, 4.Temulawak, 5.Bawang Putih, 6.Kunyit, 7.Jambu Biji, 8.Meniran, 9.Stevia, 10.Jahe Merah, 11.Pare, 12.Tribulus).
17. Di Balai Tawangmangu juga dibuka Klinik Pengobatan Tradisional “Hortus Medicus” yang melayani pasien umum. Demikian pula di RS Soetomo – Surabaya, juga dibuka klinik pelayanan serupa.
18. Di B2P2 TO-OT terdapat:
• Kebun riset Tlogodlingo, antara lain berisi:
a. Artemisia annua terstandar, sebagai obat antimalaria (artemisinin) bekerjasama dengan LIPI, Balitro, IPB dan Kimia Farma.
b. Stevia rebaudiana, dengan kandungan steviosid sebagai pemanis alami rendah kalori.
c. Pempinella alpina (purwoceng) yang telah terstandar sebagai aprodisiaka.
d. Aromatic and subtropic garden, berisi berbagai tanaman obat yang menghasilkan minyak atsiri (adas, nilam, sereh minyak, kayu putih, akar wangi, rosmarin, piretrum, daun seribu, geranium, dll), Thymi vulgaris (obat batuk), Digitalis purpurea (penguat jantung), Krangean (Litsea cubeba aprodisiaka), dll.
• Laboratorium Litbang (fitokimia, galenika, fermakognosi, dll).
• Rencana pembangunan gedung “SINEMA LITBANG FITO-MEDIKA”. Gedung tersebut akan berfungsi sebagai sarana edukasi dan rekreasi, antara lain:
a. Sinema tanaman obat dan obat tradisional Indonesia
b. Pusat data dan informasi tanaman obat seluruh indonesia
c. Museum antara lain: herbarium, alat pembuat tradisional, spa dan lain-lain.
Silahkan merujuk pada: http://www.depkes.go.id/downloads/lembar_fakta_tanaman_obat.pdf
Nilai Perdagangan Jamu di Indonesia Rp 4 Trilyun per Tahun
Hari ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Negara melakukan kunjungan ke Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT) Departemen Kesehatan, di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Dalam kunjungan ini, Presiden direncanakan meninjau kebun riset Tlogodlingo yang berisi tanaman berkhasiat obat dan meresmikan klinik Litbang Hortus Medicus.
Dalam laporannya, Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) menyatakan, Indonesia memiliki lebih kurang 7.000 spesies tanaman obat, 1.000 diantaranya telah digunakan untuk pengobatan dan mengatasi masalah kesehatan. Data WHO menyebutkan, 80% penduduk dunia masih tergantung pada pengobatan tradisional dan sebagian besar dari tanaman obat. Dampak krisis ekonomi dan adanya transisi epidemiologi mengakibatkan penggunaan tanaman obat atau obat-obat herbal semakin tinggi.
Rantai kegiatan dan distribusi perdagangan produk tanaman obat (obat herbal) menyedot tenaga kerja lebih dari 3 juta orang. Angka ini belum termasuk sebagian pelaku informal seperti pengobat tradisional, bakul jamu gendong, petani dan pengumpul tanaman obat. Adapun nilai perdagangan jamu di Indonesia mencapai lebih dari Rp 4 trilyun per tahun, tambah Menkes.
Selain bernilai strategis di bidang ekonomi, tanaman obat juga berperan dalam meningkatkan ketahanan bangsa dalam upaya swasembada bahan baku obat. Oleh karena itu, peran lembaga ini penting dalam mendukung IPTEK untuk pengembangan pemanfaatan tanaman obat di masa yang akan datang. B2P2TO-OT Tawangmangu telah menghasilkan berbagai karya ilmiah dan materi-materi hasil penelitian yang berdampak langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat.
Beberapa penelitian telah dilakukan Balai ini, diantaranya penemuan sumber pemanis non gula rendah kalori pada tanaman Stevia Rebaudiana. Selain itu, juga ditemukan metode budidaya Artemisia Annua penghasil artemisinin sebagai bahan baku obat malaria. Sementara untuk melindungi plasma nutfah tanaman obat langka, Balai ini sudah berhasil melestarikan secara ex situ tanaman-tanaman obat yang saat ini sudah tergolong ke dalam kategori endangered spesies (pengikisan genetik) antara lain tabat barito, purwoceng, pulasari, pulepandak, pule, dan lain sebagainya.
B2P2TO-OT telah membina 150 petani tanaman obat. Selain membina petani, Balai ini juga menyelenggarakan program wisata ilmiah dalam bentuk kegiatan pembelajaran IPTEK tanaman obat yang disinergiskan dengan aspek wisata. Minat masyarakat terhadap program ini cukup tinggi. Tidak kurang dari 10.000 tamu dari Aceh sampai Papua berkunjung ke Balai ini, mulai dari tingkat SD, Sekolah Menengah, Perguruan Tinggi, Ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita. Kegiatan tersebut juga merupakan wahana dalam sosialisasi dan diseminasi hasil-hasil penelitian yang telah dilaksanakan.
B2P2TO-OT bermula dari kebun koleksi tanaman berkhasiat obat bernama Usaha Tanaman Obat-obatan Lawu Complex Hortus Medicus Tawangmangu yang dirintis oleh R.M. Santosa (almarhum) dibantu oleh Prof. DR. Sutarman. Tanggal 1 April 1948, Hortus Medicus Tawangmangu resmi berdiri sebagai Instansi Pemerintah. Tahun 1978 berdasarkan Surat Keputusan Menkes No. 149/1978 balai ini menjadi Balai Penelitian. Tahun 2006 Balai ini meningkat status kelembagaannya menjadi B2P2TO-OT, kata Menkes.
B2P2TO-OT memperoleh kehormatan kerena telah dikunjungi dua presiden. Presiden Yudhoyono adalah Presiden kali kedua yang berkunjung ke Balai ini. Tahun 1956, Proklamator sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia juga pernah berkunjung ke Balai ini.
Menkes berharap, kehadiran Presiden beserta Ibu Negara ke B2P2TO-OT memotivasi staf Balai Besar, para peneliti, petani, pengumpul, akademisi dan kalangan industri, untuk lebih meningkatkan karya nyata bagi bangsa dan negara.
Sumber: http://www.depkes.go.id/
KACA PIRING (Gardenia augusta)
Tanaman termasuk familia Rubiaceae. Tumbuhan ini biasanya ditanam orang sebagai tanaman hias, yang ditanam di depan atau di samping halaman rumah, dengan tujuan memperindah halaman.
Untuk pengembangbiakannya dengan jalan menyetek batangnya. Potongan batang yang mempunyai ruas 3 sampai 4 sangat baik untuk keperluan ini.
Nama lain : ceplok piring, cepiring, peciring (Jawa), buah patah, buah batek, buah kuning, bunga susu.
Tanaman ini mengandung : styrolyl asetat, linalol.
Membuat Perajin Jamu tak Loyo Lagi
Perajin jamu Jawa di Cilacap, Jawa Tengah, seharusnya meraup berkah berlimpah dari kecenderungan back to the nature. Tetapi stigma penggunaan bahan kimia membuat industri rumahan ini terancam gulung tikar.
Pembuatan jamu di Cilacap merupakan ketrampilan turun temurun. Berawal di desa Gentasari, Kroya, industri rumahan ini menyebar hingga ke kecamatan Binangun, Adipala, Sampang, Maos, Nusawungu, dan Kesugihan.
Perajin pun terus bertambah. Di Kabupaten Cilacap dan Banyumas jumlah rumah tangga pembuat jamu ditaksir tidak kurang dari 2.000 unit. Di samping mereka, juga bertumbuh profesi pemasar, pengemas jamu, dan pemasok bahan baku.
Hanya saja, sejak dua tahun terakhir mereka terimpit stigma penggunaan bahan kimia obat, menyusul kampanye negatif yang dilakukan seorang pemilik perusahaan jamu besar.
Ketua Koperasi Jamu (Kopja) Aneka Sari Yahya Karomi menyatakan ada upaya sistematik untuk menghancurkan jamu Cilacap. Masalah utamanya persaingan bisnis jamu.
“Kampanye negatif sudah berdampak, yakni dengan terpuruknya industri jamu Cilacap dan Banyumas,” katanya. Ada kecenderungan industri kecil dituduh sebagai produsen jamu yang mengandung bahan kimia obat. Stigma ini sangat merugikan.
Kerugian juga meluas tak hanya diderita perajin Cilacap. Indikasinya, nilai ekspor jamu Indonesia pada 2006 sekitar 60% dibandingkan dengan 2005 menjadi Rp1,5 triliun.
Kopja Aneka Sari menghimpun 681 anggota, yang terdiri dari perajin 481 orang, dan sisanya para pemasar, percetakan, dan petani bahan baku. “Aktivitas usaha banyak terhenti, ada 100 produsen, dan 17 orang anggota kami rumahnya disita bank, karena tak lagi bisa membayar angsuran,” ujar Yahya.
Perajin nonanggota koperasi juga menghadapi hal serupa. “Ada tiga orang warga kami pulang lebih cepat dari Papua, karena tidak bisa berjualan. Mereka diintimidasi oleh oknum polisi, dan dikatai jualan jamu terlarang, pembeli juga tak mau membeli,” ujar Amir Fatah, Sekretaris Desa Gentasari, Cilacap.
Amir yang juga pengurus Kopja Aneka Sari ini mengatakan para perajin umumnya menjual sendiri jamu hasil produksinya, sebagian dilakukan melalui agen, dan toko jamu.
Daerah pemasaran jamu Cilacap tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga menyebar ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Setiap perajin umumnya memiliki daerah pasar yang berbeda-beda.
Namun, industri yang menjadi usaha turun temurun ini menghadapi stigma penggunaan bahan kimia. Yahya mencatat pemalsuan jamu besar-besaran terbongkar di Brebes, Yogyakarta, Tangerang, Sumedang dan beberapa daerah lain. “Faktanya, pelanggaran kerap dilakukan produsen dari daerah lain, atau pihak asing.”
Ironisnya, kegagalan ekspor sejumlah perusahaan jamu berskala nasional penyebabnya lagi – lagi ditimpakan ke jamu Cilacap. Menurut dia, kasus terakhir adalah daftar 54 produk jamu yang dikeluarkan BPOM, dan ternyata penjadi alat penekan yang lagi-lagi diarahkan ke Cilacap.
Diakui beberapa di antara jamu itu diproduksi di Cilacap, tetapi jauh hari sudah ditarik dari peredaran dan dimusnahkan sesuai dengan surat Kepala BPOM. Yahya menduga kasus itu bagian dari persaingan tidak sehat. “Kami akan mengadukan masalah ini ke KPPU [Komisi Pengawas Persaingan Usaha].”
Kopja meminta agar pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk tidak bersikap diskriminatif karena jamu Cilacap dan Banyumas merupakan penyangga ekonomi ratusan ribu masyarakat di wilayah itu.
Jamu kimia adalah jamu yang bahan-bahannya dicampur dengan zat-zat kimia. Menurut aturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), jamu harus berbahan tumbuh-tumbuhan alami dan tak boleh dicampur zat sintetis atau kimia.
Pada 23 Januari 2007 Komisi IX membentuk Timja Kasus Jamu Tradisional. Wakil Ketua Komisi IX Max Sopacua meminta pemerintah ikut menyelamatkan industri jamu. Pemerintah meminta agar semua produsen jamu tidak mengeluarkan pernyataan merisaukan.
Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib mengatakan instansinya sudah menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Deperindag, Deperin, dan Kementerian Koperasi untuk mengembangkan jamu Jawa itu.
“Kami bahkan membangun pabrik jamu lengkap di Cilacap Jawa Tengah yang lengkap dan menjadi proyek percontohan bagi yang lain,” katanya
Untuk meningkatkan daya saing para perajin, Kopja Aneka Sari, Cilacap, memang menggagas sentra penyerbukan bahan-bahan, dan laboratorium dasar untuk jamu dan obat tradisional.
Sentra ini merupakan bantuan Pemkab Cilacap, yang nantinya akan menghasilkan bahan standar obat herbal, terutama simplisia dan sediaan ekstrak. “Ini sangat penting untuk menjaga mutu obat herbal, sekaligus akan mengurangi ketergantungan perajin akan bahan-bahan stan- dar dari daerah lain,” ujar Yahya.
Selanjutnya, pembangunan laboratorium dasar digunakan untuk mengukur kadar air dan jasad renik untuk menjamin keamanan penggunaan obat bahan alami, sekaligus menjadi acuan dalam memproduksi obat herbal.
Ke depan, kata dia, perlu dikembangkan standard untuk mengukur zat aktif tertentu pada suatu tanaman obat. “Penambahan fasilitas sangat diharapkan untuk kemajuan jamu Jawa ini.”
Di samping Pemkab Cilacap, Lembaga Penelitian Ilmu Pengetahuan, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, serta Kementerian Negara Koperasi dan UKM juga sudah turun tangan memberikan dukungan.
Diharapkan, para perajin jamu makin kuat, dan tidak loyo lagi bersaing di pasar, atau pun tahan terhadap aneka stigma.
Penguatan
Penguatan industri jamu rumahan ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 1978 dengan dibentuknya Himpunan Perajin Jamu Jawa Asli (HPJA) sebagai wadah perajin desa Gentasari, sekaligus embrio koperasi.
Perkembangan yang meningkat membuat Departemen Koperasi, Departemen Perindustrian, dan Departemen Perdagangan menjadikan HPJA dijadikan sebagai Koperasi Gentasari pada 10 Juli 1985. Nama koperasi ini diubah pada 1994 menjadi Koperasi Jamu Jawa Aneka Sari dengan pertimbangan untuk memperluas jangkauan keanggotaan, yang tidak hanya bagi warga desa Gentasari.
Di samping melakukan advokasi, koperasi ini juga aktif memfasilitasi bantuan kepada perajin jamu. Paling tidak, menyakinkan pemerintah agar membantu para perajin melalui program fasilitasi, pembinaan, perizinan, hingga penyediaan gedung dan mesin peralatan.
Selasa, 12/08/2008 14:50 WIB
Oleh Moh. Fatkhul Maskur
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
URL : http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/laporan-khusus/1id73505.html
Jahe Merah
Jahe Merah (Zingiber officinale Linn.var.amarum Hassk), adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasanya dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron.
Jahe termasuk suku Zingiberaceae (temu-temuan). Nama ilmiah jahe diberikan oleh William Roxburgh dari kata Yunani zingiberi, dari bahasa Sansekerta, singaberi. Tanaman jahe berbatang basah, tinginya 60 cm, dapat tumbuh dimana-mana di daerah tropis. Pemanenan dilakukan setelah daunnya mengering hinga tanaman rebah rumpun-rumpunnya, kira-kira setelah tanaman berumur 9 samapi 12 bulan. Dapat juga dipanen pada umur 6 bulan bile ingin mendapatkan rimpang yang muda, tidak berserat, yang umumnya dimanfatkan untuk bahan manisan jahe atau bumbu dapur.
Jahe jenis ini memiliki kandungan zingeron, zingiberol, borneol, kamfen, sineol, dan felandren, pati, damar, oleorosin, serta gingerin. Kadar minyak atsirinya tinggi, baunya khas aromatik, dan rasa paling pedas, sehingga cocok untuk bahan dasar farmasi dan jamu. Ukuran rimpangnya paling kecil dengan warna merah.dengan serat lebih besar dibanding jahe biasa.
Kegunaan secara umum adalah Karminativa (peluruh angin/kentut), diaforetika(mampu mengeluarkan keringat, perangsang selaput lendir usus dan perut besar, memperbaiki pencernaan dan memperkuat lambung. Dapat juga sebagai obat alternatif untuk batuk kering yang tak kunjung sembuh, obat luka kena duri, lecet, dan gatal.
Penamaan jahe dapat dikenali dari cara atau jenis pengolahannya, yaitu:
- Black Ginger, Jahe direndam dalam air mendidih langsung dikeringkan.
- White Ginger, jika jahe dimaserasi dengan air kapur, hingga tampak putih.
- Green Ginger, jahe segar atau dikeringkan tanpa pengolahan khusus, biasa untuk bumbu masak.
Terdapat beberapa hasil pengolahan jahe yang terdapat di pasaran, yaitu:
* Jahe segar
* Jahe kering
* Awetan jahe
* Jahe bubuk
* Minyak jahe
* Oleoresin jahe
Jahe kering
Merupakan potongan jahe yang kemudian dikeringkan. Jenis ini sangat populer di pasar tradisional.
Awetan jahe
Merupakan hasil pengolahan tradisional dari jahe segar, terutama jahe muda. Yang paling sering ditemui di pasaran adalah acar, asinan, sirup, dan kristal jahe. Jenis ini disukai konsumen dari daerah Asia dan Australia.
Bubuk jahe
Merupakan hasil pengolahan lebih lanjut dari jahe menggunakan teknologi industri. Bubuk jahe diperlukan untuk keperluan farmasi, minuman, alkohol dan jamu. Biasanya menggunakan bahan baku jahe kering.
Oleoresin jahe
Adalah hasil pengolahan lebih lanjut dari tepung jahe. Bentuknya berupa cairan cokelat dengan kandungan minyak asiri 15 hingga 35%.
Di Jepang dan Tiongkok sangat menyukai asinan jahe. Sirup jahe disenangi masyarakat Tiongkok, Eropa dan Jepang. sedangkan di Indonesia produk olahan jahe yang disebut sekoteng, bandrek, jahe instan, dan wedang jahe merupakan minuman yang digemari karena mampu memberikan rasa hangat di malam hari, terutama di daerah pegunungan.
(update 030309, 113.30WIB)
-
Arsip
- November 2009 (3)
- September 2009 (1)
- Juni 2009 (16)
- April 2009 (5)
- Maret 2009 (40)
- Februari 2009 (50)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS