Minim, Perusahaan Jamu Bersertifikat CPOTB
Pdpersi, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat, dari 1.300 perusahaan jamu dam obat tradisional di Indonesia, baru sekitar 30 perusahaan yang memperoleh sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).
Kepala Seksi Potensi Pasar dan Ekspor BPOM Pusat Jonhanis menginatkan, sertifikat CPOTB yang dikeluarkan BPOM ini sangat penting artinya bagi peningkatan mutu dan tingkat keamanan obat yang diproduksi.
”Dengan memiliki sertifikat CPOTB, kami berharap mutu, sanitasi dan higiene obat yang diproduksi benar-benar terjaga, dengan menerapkan standar-standar yang ditetapkan,” ujar Jonhanis di Jakarta, kemarin.
Dia berharap perusahaan jamu atau perusahaan yang memproduksi obat-obat tradisional meningkatkan promosi dan memperhatikan mutu produknya. Itu dilakukan agar bisa bersaing dengan obat-obatan tradisional asing.
Terkait mutu produk, Jonhanis mengingatkan para pembuat jamu dan obat tradisional agar memperhatikan kebersihan produknya. Jangan sampai produk obat yang diproduksi kotor, karena pekerja tidak pakai masker, atau tidak menggunakan sarung tangan.
”Kadang-kadang obat yang diproduksi memang bersih secara kasat mata, namun ternyata tidak terbebas dari mikroskopik,” kata dia.
Dia menyebutkan selama ini Badan POM tidak pernah mempersulit perusahaan yang mengajukan izin untuk mendapatkan sertifikat karena Badan POM menetapkan persyaratan minimal. Ada persepsi selama ini mengurus CPOTB mahal, sehingga perusahaan enggan mengurusnya. Padahal anggapan itu tidaklah benar.
Jonhanis juga mengimbau kepada perusahaan yang sudah mengantongi izin CPOTB agar benar-benar mematuhi prosedur dalam produksi sesuai standar yang ditetapkan Badan POM. “Jangan sampai saat audit saja prosedur diikuti, namun setelah inspeksi tidak diperhatikan lagi,” ujar dia. (izn)
60 Merek Obat Tradisional dan Suplemen Makanan Dimusnahkan
08 Juni 2009
Enam puluh jenis obat tradisional dan suplemen makanan yang mengandung bahan kimia obat (BKO) ditarik dan dimusnahkan. Obat tersebut terdiri dari 6 item obat tradisional pelangsing diantaranya Qianjiali Kapsul Pelangsing dan Lasmi Kapsul, 9 item obat tradisional dan suplemen makanan penambah stamina pria diantaranya New Idola Kapsul dan Purwoceng Serbuk, serta 45 obat tradisional lainnya seperti Pamong Raga Pegal Linu dan Gatal Eksim Serbuk. Selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran.
Masyarakat diserukan agar tidak membeli dan mengkonsumsi obat tradisional dan suplemen makanan yang mengandung BKO karena membahayakan kesehatan antara lain hipertensi, gagal ginjal, jantung berdebar, dan kerusakan hati bahkan dapat menimbulkan kematian.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS, M.Kes, Sp.FK saat jumpa pers dikantor BPOM Jakarta (4/6). Ditambahkan, berdasarkan hasil pengawasan, sampling dan pengujian laboratorium sejak Juni 2008 hingga Mei 2009, diketahui 60 item obat tradisional dan suplemen tersebut mengandung Sibutramin Hidroklorida, Sildenafil Sitrat, Tadalafil Deksametason, Fenilbutason, Asam Mefenamat, Metampiron dan Parasetamol. Penggunaan bahan-bahan kimia obat tanpa pengawasan dokter dapat meningkatkan tekanan darah (hipertensi), denyut jantung meningkat, sulit tidur, kejang, penglihatan kabur, gangguan ginjal, sakit kepala, muka merah, pusing, mual, nyeri perut, gangguan penglihatan, infark miokard, nyeri dada, jantung berdebar, gula darah meningkat, glaukoma, gangguan pertumbuhan, tulang keropos, kelemahan otot. Selain itu juga dapat menimbulkan gagal ginjal, diare, tuka lambung, gangguan ginjal, dan kerusakan hati. Bagi masyarakat yang memerlukan informasi lebih lanjut atau yang menemukan produk tersebut dapat menghubungi Badan POM RI melalui Unit Layanan Pengaduan Konsumen di nomor telepon 021-4263333 dan 021-32199000 atau melalui e-mail ulpk@pom.go.id dan uplkbadanpom@yahoo.com atau melihat di website Badan POM, www.pom.go.id
(www.depkes.go.id)
“Pola Makan Gizi Seimbang Meningkatkan Kualitas Hidup”
10 Feb 2009
Lima puluh sembilan tahun yang lalu (1950), Dr. Poerwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia mendirikna lembaga Makanan Rakyat untuk memperbaiki gizi rakyat Indonesia dan mendirikan Sekolah Ahli Diit yang memproduksi tenaga profesional ahli gizi, yang pada masa sekarang dikenal sebagai Direkorat Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan dan Akademi Gizi.
Dalam kurun waktu 59 tahun memerangi masalah gizi di Indonesia, saat ini berbagai kemajuan dan keberhasilan sudah banyak dicapai. Penyakit “rakyat” seperti hunger oedema (H.O) atau beri-beri, xeropthalmia, pellagra dan lain-lainnya, pada saat ini sudah sangat jarang ditemukan. Meskipun telah banyak keberhasilan, kekurangan gizi makro (kekurangan energi protein) baik akut maupun kronis masih banyak ditemukan, terutama pada masyarakat miskin, perdesaan dan wilayah timur Indonesia. Demikian pula halnya dengan kekurangan gizi mikro (kekurangan vitamin mineral) yang dikenal sebagai “silent hunger” seperti anemia gizi besi, gondok endemik, masih banyak ditemukan terutama pada anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui.
Hal itu disampaikan dr. Budihardja, DTM&H, MPH, Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, pada pembukaan Seminar “Pola Makan Gizi Seimbang Meningkatkan Kualitas Hidup” dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-59 di Jakarta tanggal 10 Februari 2009.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, selain kekurangan gizi, penyakit infeksi (diare, infeksi saluran pernapasan akut) dan penyakit menular (malaria, TBC dan HIV/AIDS), masalah kelebihan gizi (kegemukan dan obesitas), penyakit tidak menular seperti jantung dan pembuluh darah, stroke, hipertensi, diabetes mellitus menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Bahkan penyakit ini telah menjadi sebab utama kematian di Indonesia. Artinya, telah terjadi transisi epidemiologi, karena sebelumnya penyakit utama kematian adalah penyakit menular, ujar dr. Budihardja.
Ditambahkan, masalah overweight dan penyakit tidak menular sudah harus mendapat perhatian, sementara gizi buruk dan penyakit infeksi belum teratasi. Terjadinya masalah gizi disebabkan oleh jumlah dan mutu asupan gizi serta kondisi kesehatan dan penyakit yang diderita seseorang. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, akses terhadap pelayanan kesehatan, air bersih dan sanitasi dasar, serta pola asuh sadar gizi keluarga.
Sedangkan keadaan yang mendasari berbagai masalah gizi tersebut antara lain adalah kemiskinan, pendidikan dan tingkat daya beli masyarakat. Dengan demikian, mengatasi masalah gizi di Indonesia, tidak hanya tanggungjawab Depkes saja, tetapi juga menjadi tanggungjawab sektor lainnya seperti pertanian dan ekonomi, dan masyarakat, termasuk masyarakat umum seperti mahasiswa, kader, dunia usaha dan media yang hadir pada pagi hari ini, papar dr. Budihardja. Menurut dr. Budihardja, sesuai dengan pembagian kelompok makanan yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah, menjadi lima karena ditambah susu, maka dikenal dengan Slogan Empat Sehat Lima Sempurna. Slogan ini pertama kali diperkenalkan oleh dr. Poerwo Soedarmo pada kurun 1950-an.
Slogan tersebut mengacu pada slogan yang digunakan di USA pada tahun 1940-an (basic seven, sesuai pembagian makanan di USA). Dengan berkembangnya ilmu gizi dan kesehatan secara pesat, maka slogan Empat Sehat Lima Sempurna diperbarui lagi sebagai pedoman diet yang menekankan pada prinsip keseimbangan makanan, balance diet atau Pedoman Gizi Seimbang.
Secara internasional, pedoman ini digambarkan dalam bentuk piramid, yang di Indonesia digambarkan sebagai “tumpeng”. Proporsi terbesar, di bagian dasar tumpeng adalah kelompok karbohidrat sebagai sumber energi. Diatasnya, kelompok buah dan sayur sebagai sumber vitamin dan mineral. Pada lapisan ketiga,dengan proporsi lebih kecil lagi, ada kelompok lauk pauk sebagai sumber protein. Dan pada puncak tumpeng yang merupakan proporsi terkecil terdapat kelompok makanan yang dikonsumsi sedikit saja yaitu gula, minyak, lemak dan garam.
Dipilihnya tema seminar “Pola Makan Gizi Seimbang Meningkatkan Kualitas Hidup” merupakan salah satu upaya Depkes bekerjasama dengan Persagi untuk memasyarakatkan pola makan gizi seimbang sebagai gaya hidup sehari-hari. Melalui acara ini, diharapkan para peserta seminar akan lebih memahami pedoman gizi seimbang, dapat menerapkan sebagai gaya hidup sehari-hari, sekaligus dapat berperan sebagai penggerak, pelopor dan motivator dalam menerapkan pola makan gizi seimbang di masyarakat, kata dr. Budiharja.
Sesuai dengan tema, dalam seminar akan dibahas Kebijakan Program Gizi oleh Dirjen Bina Kesmas, Mengapa Tubuh Kita Memerlukan Gizi Seimbang oleh dr. Safri Gurichi,MPH, Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Univ. Muhammadiyah Jakarta, dan Penerapan Pola Makan Gizi Seimbang dalam Keluarga oleh Ir. Rossi Anton Apriyantono, MSc., dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) serta presentasi contoh makanan sehat oleh Tuti Soenardi.
www.depkes.go.id
Tangkal Serangan Iklan Rokok pada Pemuda
Pemuda, termasuk usia remaja dan anak sekolah, merupakan sasaran utama iklan industri rokok. Mengapa? Menurut dokumen rahasia perusahaan rokok terbesar di AS, RJ Reynolds Tobacco Company: perokok remaja merupakan faktor penting bagi kehidupan industri rokok dan sumber potensial untuk menggantikan pasar perokok veteran yang telah meninggal akibat penyakit-penyakit yang dibawa rokok. Dengan kata lain, jika para pemuda tidak merokok, industri rokok akan bangkrut sebagaimana sebuah masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerus.
Menurut data Organisasi Kesehatan Sedunia (World Health Organization), pada tahun 2008 diperkirakan sekitar 5,4 juta orang meninggal per tahun akibat rokok. Sedangkan di Indonesia diperkirakan sekitar 427.948 orang meninggal per tahun karena rokok, atau sekitar 1.172 orang meninggal per hari. Para korban ini tentu merupakan perokok veteran yang mungkin telah menjalani separuh hidupnya atau bahkan lebih dengan merokok. Tidak ada jalan lain bagi industri rokok untuk mengganti ”aset” mereka yang hilang ini dengan perokok pemula yaitu para pemuda. Sehingga bisa ditebak sasaran iklan rokok lebih banyak diarahkan kepada kelompok ini.
Tidaklah heran jika disetiap sudut kota maupun desa terpampang baliho, iklan atau tulisan dan gambar rokok yang menghiasi hampir sebagian besar kios atau warung. Belum lagi sejumlah iklan di berbagi media cetak maupun elektronik yang muncul setiap harinya dalam intensitas yang tinggi. Menurut riset yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2006, sebanyak 9.230 iklan rokok terdapat di televisi, 1.780 iklan di media cetak, dan 3.239 iklan di media luar ruang, seperti umbul-umbul, papan reklame, dan baliho. Gencarnya iklan yang dilakukan industri rokok, berdasarkan Global Youth Tobacco Survey Indonesia (GYTS)tahun 2006, telah mengekspos sebanyak 92,9 persen anak-anak dengan iklan yang berada di papan reklame dan 82,8 persen melalui iklan yang berada di majalah dan Koran.
Industri rokok memang sangat ”lihai” memanfaatkan karakteristik remaja, ketidaktahuan akan bahaya rokok dan ketidakberdayaan remaja yang sudah kecanduan rokok. Berbagai promosi produk rokok memunculkan jargon-jargon promosi yang mudah tertangkap mata dan telinga serta menantang. Jargon – jargon populer yang ditujukan pada remaja dirancang sesuai karakteristik remaja yang menginginkan kebebasan, independensi dan pemberontakan pada norma-norma. Tidak hanya sampai disitu, merasa belum puas lewat iklan di media massa dan media luar ruang, industri rokok juga sudah masuk pada tahap pemberi sponsor kegiatan-kegiatan anak muda, seperti konser musik, pemutaran film, seni, budaya, keagamaan dan olahraga.
Walhasil, ketika para ahli kesehatan memandang merokok sebagai perilaku yang merusak kesehatan, banyak remaja yang telah ”termakan” iklan komersial industri rokok dan mengartikannya secara positif. Sebagai citra kekuatan, perilaku risk-taking yang jantan, dan sebagainya. Angka perokok remajapun terus meningkat. Berdasarkan survei yang dilakukan Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia tahun 2006 yang dilakukan terhadap remaja berusia 13-15 tahun, sebanyak 24,5 persen remaja laki-laki dan 2,3 persen remaja perempuan merupakan perokok. Disamping itu hasil survei menunjukkan bahwa 3,2 persen di antaranya sudah kecanduan. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, 3 dari 10 pelajar mencoba merokok sejak mereka di bawah usia 10 tahun.
Kita tentu semua setuju bahwa pemuda merupakan generasi penerus bangsa, maju tidaknya bangsa pada masa yang akan datang sangat tergantung pada kelompok generasi muda ini. Jika mereka lemah dan tidak sehat akibat gangguan rokok tentu tidak banyak yang kita harapkan untuk menciptakan negara yang maju. Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober, merupakan saat yang tepat untuk mencurahkan perhatian pada para pemuda , agar mereka sehat dan terbebas dari gangguan penyakit akibat rokok.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menangkal serangan iklan rokok terhadap pemuda?
Upaya-upaya yang perlu dilakukan adalah :
1. Gerakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tanpa rokok harus dimulai sedini mungkin. Hal ini bisa dimulai dari tingkat rumah tangga dan sekolah. Di tingkat rumah tangga, paling tidak orang tua memberikan pemahaman tentang bahaya merokok dan tidak memberikan contoh dengan merokok di depan anak- anak. Sedangkan melalui pendidikan sekolah, lewat program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), anak-anak dijelaskan tentang bahaya merokok, sekaligus dijelaskan bahwa merokok merupakan kebiasaan buruk, seperti halnya meludah atau membuang sampah di sembarang tempat.
2. Kepada para pemimpin dan tokoh masyarakat diharapkan mampu memberikan teladan hidup sehat, dengan tidak merokok di depan remaja dan anak sekolah atau pada acara-acara publik.
3. Kampanye hidup sehat tanpa rokok harus terus digalakkan melalui berbagai media, seperti pendidikan, pembuatan kawasan-kawasan bebas rokok dan kawasan rokok.
4. Penertiban iklan rokok oleh pemerintah tentang isi iklan rokok yang menyesatkan. Disamping itu dihindari iklan rokok pada lingkungan sekolah dan yang terkait kegiatan-kegiatan remaja dan kepemudaan.
Mudah-mudahan kita harapkan, jika dapat melaksanakan upaya-upaya tersebut, pada masa yang akan datang akan muncul generasi muda yang lebih sehat dan terbebas dari gangguan rokok. Serta siap meningkatkan pembangunan bangsa ini sebagai negara yang lebih maju. Semoga …
(Arfian Nevi, SKM,DEA. Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat)
Kepustakaan :
1. Aditama T.Y, et all, Global Youth Tobacco Survey (GYTS) in Indonesia, Elsevier, 2008.
2. Henri Weimstein,R.J. Reynolds Targeted Kids, Records Show, Los angeles times, 1998.
3. World Health Organization (WHO), www.WHO.org, 2008.
4. Balai Pengawasan Obat dan Makanan, 2008.
Perbaikan Gizi Masyarakat AIR SUSU IBU KUNCI BENTUK GENERASI MUDA YANG LEBIH SEHAT DAN CERDAS
”Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya”. Kalimat ini bukanlah pesan dari seorang dokter untuk para ibu, tetapi merupakan perintah dan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 233. Ini menunjukkan betapa pentingnya Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi dan anak-anak.
Disamping zat nutrisi yang terkandung didalamnya yang tiada dapat ditandingi oleh susu formula jenis apa pun. Pemberian ASI kepada bayi juga akan menjalin hubungan kedekatan batin antara ibu dan anak. Oleh karena itu pemerintah menggagas program Inisiasi Penyusuan Dini dan ASI Ekslusif.
Pada tingkat dunia, untuk menggalakan pemberian ASI kepada bayi, Badan Kesehatan sedunia (WHO) setiap tahunnya pada tanggal 1-7 Agustus menetapkan tanggal tersebut sebagai pekan ASI Sedunia (Breastfeed week). Tahun ini mengangkat tema : Mother Support: Going for the Gold atau Dukung Ibu Mendapatkan Kesempatan Emas.
Sesuai dengan tema yang di usung WHO tersebut, sebenarnya mengapa Ibu perlu didukung mendapatkan kesempatan emas, apa artinya bagi seorang bayi ??
Menurut beberapa hasil penelitian, ”Periode emas pertama” pertumbuhan otak bayi dimulai beberapa saat setelah terjadinya konsepsi (pembuahan kehamilan). Pada saat periode ini proses tumbuh kembang otak melaju dengan pesat. Sedangkan ”periode emas kedua” terjadi di akhir kehamilan sampai bayi lahir hingga berusia dua tahun. Pada periode kedua ini adalah kesempatan emas untuk merangsang sel otak. Semakin awal sel otak dirangsang, semakin banyak terjadi network(jaring-jaring) di antara sel-sel saraf tersebut yang akan membuat otak cerdas (WHO. 2004).
Periode emas kedua ini, dimulai dari tigapuluh menit pertama setelah bayi lahir. Tanpa perlu dimandikan, bayi yang baru lahir sebaiknya segera diberikan pada ibunya untuk disusui. Tindakan inilah yang disebut dengan Inisiasi Menyusu Dini. Refleks isap bayi paling kuat pada 30 menit setelah dia dilahirkan. Isapan bayi pada puting ibunya akan merangsang pengeluaran hormon prolaktin (yang merangsang produksi ASI) dan hormon oksitosin (yang merangsang refleks pengeluaran ASI). Kerja kedua hormon tersebut akan membuat kolostrum lebih cepat keluar. Kolostrum adalah ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke-10 atau ke-14. Cairan ini mengandung zat-zat gizi dan zat kekebalan tubuh (antibodi) dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan ASI yang keluar pada hari-hari berikutnya. Hal ini akan membuat bayi terlindung dari penyakit infeksi, dan memperoleh kekebalan tubuh.
Setelah melewati tahap inisiasi dini, seorang bayi seharusnya mendapatkan hanya ASI selama 6 bulan tanpa makanan pendamping atau yang disebut ASI Ekslusif, karena nutrisi yang terkandung dalam ASI sudah sangat lengkap untuk kebutuhan bayi. Kemudian diteruskan hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih, dengan pemberian makanan tambahan.
Mengapa cairan putih ajaib ini sangat berkhasiat dan bermanfaat bagi bayi? Departemen Kesehatan Amerika, belum lama ini mempublikasikan sebuah analisa sebuah studi pada tahun 2007. Menyimpulkan bahwa ASI mempunyai manfaat yang sangat penting, bukan hanya untuk kesehatan bayi tetapi juga bagi kesehatan ibu. Manfaat untuk kesehatan termasuk mencegah infeksi telinga, infeksi saluran pernafasan, asma, obesitas, diabetes, leukimia pada anak dan sindrome kematian mendadak pada anak. Sedangkan bagi si ibu, akan menurunkan risiko kanker payudara, diabetes dan anemia. (AHQ,2007)
Sungguh menakjubkan khasiat air susu ini, sehingga kita semua perlu mendorong dan memotivasi para ibu khususnya di Jawa Tengah untuk melakukan Inisiasi menyusui dan ASI ekslusif. Karena ternyata angka cakupan pemberian ASI ekslusif di Indonesia dan Jawa Tengah khususnya masih tergolong rendah. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) yang berkerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%,sedangkan dipedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara hanya 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13%. Permasalahan yang utama rendahnya angka cakupan ASI ini adalah karena faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung serta gencarnya promosi susu. (Depkes RI, 2003).
Pekan ASI sedunia merupakan momentum yang sangat tepat untuk memberikan pengetahuan tentang manfaat ASI melalui promosi kesehatan sehingga para ibu diharapkan mempunyai kemauan dan kemampuan untuk melakukan Inisiasi dini, ASI ekslusif dan melanjutkan sampai 2 tahun atau lebih.
Oleh karenanya kewajiban kita semua untuk memberikan kesempatan dan menolong para ibu untuk memanfaatkan periode emas yang sangat menentukan ini. Karena sebenarnya hampir semua wanita sanggup untuk melakukan inisiasi menyusui dan ASI ekslusif jika mereka mendapatkan informasi yang benar. Disamping itu harus didukung tidak hanya oleh petugas kesehatan tetapi juga oleh anggota keluarga, masyarakat di sekitarnya dan lingkungan tempat kerja. Pemerintah juga harus memastikan bahwa pemasaran susu formula tidak memuat pesan-pesan bahwa susu tersebut mempunyai khasiat yang sama dengan ASI.
Dengan melakukan Inisiasi Menyusu Dini dan ASI eksklusif, kita berharap akan mengahasilkan generasi muda Indonesia dan Jawa Tengah khususnya, sebagai penerus bangsa yang lebih berkualitas secara fisik (sehat) juga berkualitas dari sisi integensi (cerdas). Yang akhirnya akan sangat mendukung terciptanya negara kita yang maju dan tidak ketinggalan dengan negara lain.
Oleh: Arfian Nevi, SKM, DEA.
Fungsional Penyuluh Kesehatan
Daftar Pustaka:
1. Breastfeeding and Maternal and Infant Health Outcomes in Developed Countries, Structured Abstract. April 2007. Agency for Healthcare Research and Quality, Rockville, MD. http://www.ahrq.gov/clinic/tp/brfouttp.htm.
2. WHO, http://www.who.int/mediacentre/news/statements/2008/s08/en/
3. Depkes RI, Pedoman Pemberian ASI di Tempat Kerja, 2003.
http://dinkesjatengprov.go.id
-
Arsip
- November 2009 (3)
- September 2009 (1)
- Juni 2009 (16)
- April 2009 (5)
- Maret 2009 (40)
- Februari 2009 (50)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS