Demi Anak, Orangtua Harus Berhenti Merokok!
Udara dalam ruangan ternyata lebih berbahaya daripada di luar ruangan. Berdasarkan penelitian American College of Allergies sekitar 50 persen penyakit disebabkan oleh polusi udara dalam ruangan. Termasuk penyakit asma.
Hal tersebut diungkap dalam Majalah Asma yang dikeluarkan Yayasan Asma Indonesia yang ditulis Dr. Tria Damayanti. Menurutnya, dari beberapa pemicu asma dalam ruangan yang patut menjadi perhatian khusus adalah asap rokok. Karena anak asma yang orangtuanya merokok beresiko lebih sering terjadi serangan asma akut, infeksi saluran pernapasan dan 6 kali lebih sering infeksi telinga dibandingkan anak yang orangtuanya tidak merokok.
Lalu dengan sangat jelas ia mengatakan, rumah penderita asma harus bebas dari asap rokok. Sekalipun mereka yang merokok tersebut merokok di ruangan lain atau ketika anak sedang tidur masih tetap berpengaruh karena zat kimia yang ditinggalkan asap rokok masih tersisa.
Lebih lanjut ia mengatakan berbagai macam polusi dalam ruangan selain asap rokok, yaitu asap obat nyamuk yang dibakar, disemprot atau menggunakan listrik dan elektrik asap dapur, hairspray, deodorant, bau yang tajam, pengharum ruangan dan pembakar sampah.
Selain itu juga terdapat pencetus asma yang dikategorikan sebagai alergen yaitu debu rumah, tungau, kecoa, jamur, kapuk dan bulu binatang seperti anjing, kucing, ayam serta burung.
Kemudian ia menambahkan, pencetus asma juga terkait dengan ventilasi yang buruk. Ventilasi seperti ini akan membuat gas hasil pembakaran saat memasak seperti nitrogen dioksida, karbon monoksida dan sulfur dioksida dapat mencapai kadar toksik akan tertahan di dalam ruangan rumah.
www.kompas.com
Perangi Rokok Lewat Sepotong Gambar
ernahkah anda melihat rongga mulut manusia yang telah digerogoti tumor ganas? Rasa ngeri terhadap ancaman kanker niscaya akan menyergap begitu melihat gambar mulut seseorang yang terkena kanker. Bentuk kanker pada bibir, lidah dan gusi menyerupai sariawan. Gusi pun bengkak dan berdarah.
Bayangkan bila gambaran menakutkan itu terpampang dalam bungkus rokok dengan luas gambar 50 persen dari sisi lebar bungkus rokok disertai tulisan peringatan kesehatan. Dijamin, selera untuk merokok, termasuk para perokok berat, akan turun drastis. Tanpa berbusa-busa memaparkan bahaya rokok bagi kesehatan, perokok akan berpikir ulang untuk menikmati kepulan asap rokok.
Bila Anda melancong ke sejumlah negara Asean seperti Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand, peringatan kesehatan berbentuk gambar itu akan dengan mudah dijumpai pada kemasan rokok. Oleh karena, pemerintah setempat telah menerapkan peraturan peringatan kesehatan berbentuk gambar pada semua kemasan rokok yang dijual di negara itu, termasuk rokok produksi Indonesia.
Untuk memperingatkan bahwa rokok meningkatkan risiko menderita kanker mulut, dalam kemasan rokok terpampang gambar isi rongga mulut yang digerogoti kanker disertai tulisan Peringatan: Merokok Menyebabkan 92 persen dari Angka Kejadian Kanker Mulut. Gambar lain adalah, perdarahan otak pada penderita stroke dan tulisan Peringatan: Merokok Menyebabkan Stroke. Pada kemasan rokok lain ada gambar janin tidak berkembang disertai keterangan Peringatan: Merokok Meningkatkan Risiko Keguguran .
Peringatan kesehatan berbentuk gambar pada semua bungkus rokok ini dinilai para pengambil kebijakan di sejumlah negara Asean merupakan cara efektif un tuk mengurangi dampak buruk tembakau bagi kesehatan. Sebab, peringatan kesehatan dalam bentuk tulisan dianggap kurang menciutkan nyali perokok terhadap ancaman kesehatan karena merokok.
Namun, di Indonesia yang merupakan negara produsen rokok terbesar di Asia Tenggara, belum ada aturan yang mewajibkan perusahaan rokok mencantumkan peringatan kesehatan berbentuk gambar pada bungkus rokok produksinya. Indonesia juga satu-satunya negara di Asia yang belum mengaksesi Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Temba kau WHO (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC) yang disepakati secara aklamasi dalam Sidang Kesehatan Dunia, Mei 2003.
Gurihnya cukai rokok dan besarnya jumlah tenaga kerja yang terserap indutri rokok jadi dalih keengganan pemerintah meratifikasi FC TC. Sebenarnya seberapa besar sumbangan industri rokok? Soewarta Kosen dari Litbang Departemen Kesehatan pernah meneliti, tahun 2005 biaya akibat konsumsi tembakau Rp 167,1 trilyun meliputi biaya pembelian rokok, hilangnya produktivitas dan biaya pengobat an penyakit terkait rokok. Jumlah itu 5,1 kali lebih tinggi dari pemasukan cukai tahun yang sama sebesar Rp 32,6 trilyun.
Masalah global
Konsumsi rokok merupakan masalah global yang berakibat pada kesehatan dan ekonomi rumah tangga, penduduk dan negara. M enurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), asap tembakau berbahaya terhadap perokok dan orang sekitarnya, dengan kandungan lebih dari 4.000 bahan berbahaya seperti nikotin (pembunuh serangga), tar (bahan aspal), karbon monoksida dan hidron sianida (gas beracun), dan arsen (racun mematikan).
Tembakau jadi faktor risiko utama pada 6 dari 8 penyebab kematian di dunia yang mengancam miliaran pria, wanita dan anak-anak. Pada tahun 2030, diperkirakan 80 persen kematian terkait tembakau terjadi di negara-negara berkemban g. Merokok menyebabkan kanker dan penyakit kronis seperti stroke, penyakit jantung koroner, pneumonia, asma dan gangguan pernapasan lain, gangguan reproduksi serta kesuburan. Risiko kesehatan ini juga dialami mereka yang terpapar asap rokok orang lain.
Laporan Global Pengendalian Tembakau Tahun 2008 menyebutkan, hampir dua per tiga perokok tinggal di 10 negara, dan Indonesia menempati urutan ketiga setelah China dan India. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional, tahun 2004 prevalensi merokok dewasa usia 15 tahun ke atas adalah 34,4 persen, meningkat dari 31,5 persen tahun 2001. Prevalensi merokok dewasa laki-laki pada tahun 2004 sebesar 63,1 persen.
Kelompok berpendidikan rendah dan remaja rawan kecanduan merokok. Sebanyak 67 persen dari populasi pria ta k sekolah atau tidak lulus SD adalah perokok aktif. Adapun prevalensi remaja pria perokok aktif usia 13-15 tahun adalah 24,5 persen, dan remaja usia 15-19 tahun prevalensinya 33 persen. Yang memprihatinkan, menurut Hasil Survei Global Tembakau Remaja Indo nesia tahun 2006, perokok yang memulai di usia 5-9 tahun naik dari 0,4 persen tahun 2001 jadi 1,8 persen tahun 2004.
Rokok juga memperburuk status gizi balita pada keluarga miskin, kata mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Prof Farid Anfasa Moeloek, dalam diskusi terbatas (9/5), di Jakarta. Dari data WHO 2006, di Indonesia ada 55 juta perokok aktif. Dengan sumber daya ekonomi terbatas, 22 persen dari total belanja mingguan rumah tangga miskin di perkotaan untuk membeli rokok. Menurut Susenas 2006, pengelu aran untuk rokok 5 kali dari pengeluaran untuk telur dan susu, dua kali pengeluaran untuk ikan, dan 17 kali belanja daging.
Lebih efektif
Mengingat besarnya dampak buruk rokok bagi kesehatan dan ekonomi penduduk di Indonesia, Widyastuti Soerojo, Ketua Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, menyatakan pengendalian tembakau seharusnya jadi prioritas dalam agenda kesehatan . Namun sejauh ini Rancangan Undang Undang Ratifikasi FCTC masih tertahan di lembaga eksekutif, sedangkan RUU pengendalian tembakau masuk agenda pembahasan di lembaga legislatif tahun ini.
Berharap Pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC tentu butuh waktu lama. Akan tetapi, ada terobosan yang bisa dikerjakan Departemen Kesehatan yaitu mengajukan draft peraturan pemerintah yang baru untuk masalah tembakau ini. Setidaknya, memuat aturan yang mewajibkan perusahaan rokok mencantumkan peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan pada semua bungkus rokok yang beredar di Indonesia.
Di banyak negara di Eropa yang sudah lebih dulu menerapkan aturan ini, upaya itu terbukti efektif. Mengingat luasnya wilayah Indonesia dan minimnya dana sosialisasi, penerapan aturan itu merupakan sa rana informasi dan pendidikan bagi masyarakat luas yang efektif dan murah karena biayanya tidak ditanggung pemerintah, kata Rita Damayanti, peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan (PPK) Universitas Indonesia.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003, tiap bungkus rokok harus mencantumkan peringatan kesehatan tunggal dan tidak berganti-ganti yang bunyinya Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin . Setiap iklan rokok harus mengalokasikan minimal 1 5 persen dari luasnya untuk peringatan kesehatan yang sama. Hal ini berbeda dengan FCTC WHO yang mensyaratkan, peringatan kesehatan menempati 30-50 persen dari permukaan lebar bungkus rokok, pesan tunggal dan berganti-ganti, bisa berbentuk gambar.
Menurut hasil studi PPK UI, meski lebih dari 90 persen masyarakat pernah membaca peringatan kesehatan pada bungkus rokok, tapi 42,5 persen dari mereka tak percaya karena tidak melihat bukti. Sebanyak 26 persen dari responden tidak termotivasi berhenti merokok, 26 persen tak peduli karena terlanjur ketagihan, 20 persen mengatakan tulisan tidak jelas. Mayoritas responden memilih peringatan kesehatan berbentuk gambar disertai tulisan, 80 persen di antaranya mengusulkan luas gambar 50 persen dari sisi lebar kemasan rokok.
Maka dari itu, menurut Rita, hasil studi persepsi masyarakat yang menghendaki peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan serta menempati 50 persen permukaan lebar bungkus rokok seharusnya jadi rujukan untuk mengubah pasal terkait PP No 19 Tahun 2003. Penerapan aturan peringatan kesehatan berbentuk gambar pada bungkus rokok merupakan cara cerdas mengendalikan dampak rokok bagi kesehatan.
www.kompas.com
Kanker Paru Ancam Para Perokok Aktif Maupun Pasif
“Sahabat sejati” penyakit kanker paru adalah rokok. Hal tersebut dipertegas dengan hasil penelitian, baik yang dilakukan di Indonesia maupun luar negeri, bahwa sebagian besar atau 80 persen kanker paru disebabkan kebiasaan merokok.
Hal tersebut dipubikasikan Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional Dharmais saat Penyuluhan Deteksi Dini Kanker Prostat di RS Dharmais. Lebih lanjut dikatakan, kanker paru adalah pertumbuhan neoplastik (tumor) yang bersifat ganas, yang berasal dari salah satu jenis sel di dalam saluran napas (bronkus).
Berikut adalah beberapa gejala timbulnya kanker paru. Gejala umumnya adalah tidak nafsu makan dan mengalami susut badan. Sementara gejala khusus yang langsung terkait dengan paru, seperti batuk, banyak dahak, mengalami batuk darah, sesak napas, dan nyeri dada.
Publikasi tersebut juga menyebutkan siapa saja yang berisiko tinggi terkena kanker paru. Mereka adalah laki-laki yang berusia 40 tahun ke atas, perokok aktif dan perokok pasif, dan mereka yang bekerja di lingkungan yang mengandung karsinogen. Karsinogen adalah bahan atau faktor yang dapat menimbulkan kanker.
Untuk itu, kepada mereka disarankan untuk melakukan pemeriksaan dahak secara berkala. Selain itu juga melakukan pemeriksaan foto rontgen dada secara berkala setiap 4-6 bulan sekali. Dengan ini diharapkan dapat ditemukan kanker paru pada stadium dini.
Cara terbaik untuk menghindari kanker adalah jangan mulai untuk merokok bagi yang tidak merokok, tapi jika menjadi perokok maka segeralah berhenti, hindari asap rokok orang lain. Bagi perusahaan supaya mematuhi peraturan tentang kesehatan dan keselamatan kerja.
Kanker paru adalah salah satu kanker yang paling sering ditemui pada laki-laki. Kanker lain yang kerap bersarang pada “Kaum Adam” adalah kanker perut dan kanker prostat.
Matikan Rokok, Sebelum Rokok Mematikan Anda!
Mari berhenti merokok! Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh RS Pusat Kanker Nasional Dharmais mengatakan, 90 persen kanker paru dan 30 persen kanker lainnya akan dapat dicegah dengan cara berhenti merokok.
Lebih lanjut juga dituliskan apa saja manfaat yang dapat kita peroleh jika berhenti merokok. Pertama, dengan tidak lagi merokok berarti kita mengurangi risiko terkena serangan jantung, kanker paru, penyakit paru kronik, obstruktif, stroke, tukak lambung, hambatan pertumbuhan janin, gangguan kehamilan dan persalinan, impoten dan infertilitas, dan osteoporosis.
Penyakit tersebut siap menyerang kita karena di dalam satu batang rokok ada setidaknya 4.000 bahan kimia, 400 di antaranya beracun dan kira-kira 40 di antaranya dapat menyebabkan kanker. Ada 3 racun yang paling berbahaya, yaitu nikotin, tar dan karbon monoksida. Nikotin yang hanya butuh 10 detik untuk mencapai otak membuat kita ketagihan.
Kedua, bernapas dengan lebih mudah dan mempunyai stamina yang lebih baik. Ketiga, menghemat pengeluaran kita dari membeli rokok. Jika dalam sehari kita menghabiskan sebungkus rokok, maka kira-kira kita akan menghemat Rp. 5.475.000 selama setahun. Jika lebih dari sebungkus, maka semakin banyak penghematan yang kita lakukan.
Keempat, menghemat biaya pengobatan dan pembayaran asuransi. Kelima, mempunyai gigi yang lebih bersih, napas, baju, kamar, rumah, dan mobil yang tidak berbau.
Keenam, ini yang sangat penting bahwa dengan berhenti merokok kita menyelamatkan orang-orang di sekeliling kita yang tidak merokok, terutama anak-anak dan istri kita. Karena perokok aktif hanya mengisap 25 persen asap rokok yang berasal dari ujung yang terbakar, sementara 75 persen lainnya diberikan kepada nonperokok.
Anak-anak dengan orangtua perokok aktif berisiko menderita penyakit napas, misalnya asma, dua kali lebih besar dari anak yang orangtuanya tidak merokok. Mempersiapkan diri untuk berhenti merokok harus diawali dengan niat dan motivasi yang kuat.
Jadi, matikanlah rokok Anda, sebelum rokok mematikan Anda!
www.kompas.com, 12 mei 2009
Demi Anak, Orangtua Harus Berhenti Merokok!
Udara dalam ruangan ternyata lebih berbahaya daripada di luar ruangan. Berdasarkan penelitian American College of Allergies sekitar 50 persen penyakit disebabkan oleh polusi udara dalam ruangan. Termasuk penyakit asma.
Hal tersebut diungkap dalam Majalah Asma yang dikeluarkan Yayasan Asma Indonesia yang ditulis Dr. Tria Damayanti. Menurutnya, dari beberapa pemicu asma dalam ruangan yang patut menjadi perhatian khusus adalah asap rokok. Karena anak asma yang orangtuanya merokok beresiko lebih sering terjadi serangan asma akut, infeksi saluran pernapasan dan 6 kali lebih sering infeksi telinga dibandingkan anak yang orangtuanya tidak merokok.
Lalu dengan sangat jelas ia mengatakan, rumah penderita asma harus bebas dari asap rokok. Sekalipun mereka yang merokok tersebut merokok di ruangan lain atau ketika anak sedang tidur masih tetap berpengaruh karena zat kimia yang ditinggalkan asap rokok masih tersisa.
Lebih lanjut ia mengatakan berbagai macam polusi dalam ruangan selain asap rokok, yaitu asap obat nyamuk yang dibakar, disemprot atau menggunakan listrik dan elektrik asap dapur, hairspray, deodorant, bau yang tajam, pengharum ruangan dan pembakar sampah.
Selain itu juga terdapat pencetus asma yang dikategorikan sebagai alergen yaitu debu rumah, tungau, kecoa, jamur, kapuk dan bulu binatang seperti anjing, kucing, ayam serta burung.
Kemudian ia menambahkan, pencetus asma juga terkait dengan ventilasi yang buruk. Ventilasi seperti ini akan membuat gas hasil pembakaran saat memasak seperti nitrogen dioksida, karbon monoksida dan sulfur dioksida dapat mencapai kadar toksik akan tertahan di dalam ruangan rumah
www.kompas.com mei 2009
-
Arsip
- November 2009 (3)
- September 2009 (1)
- Juni 2009 (16)
- April 2009 (5)
- Maret 2009 (40)
- Februari 2009 (50)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS